Di banyak tempat, kalimat “donatur dilarang ngatur” sering muncul sebagai candaan. Kadang ditulis di warung kopi, dipakai di tongkrongan, bahkan dijadikan status media sosial. Sekilas lucu. Tapi kalau dipikir lebih jauh, kalimat itu sebenarnya menyimpan kritik kecil tentang hubungan manusia: tentang bantuan, kuasa, dan rasa ingin mengendalikan.
Memberi memang hal baik. Tidak semua orang mampu berbagi, dan tidak semua orang mau peduli. Karena itu, donatur sering dipandang sebagai sosok yang berjasa. Namun masalah mulai muncul ketika bantuan berubah menjadi alat untuk mengatur hidup orang lain. Bantuan yang awalnya ringan berubah menjadi beban. Pemberian yang mestinya menolong malah terasa seperti tali yang mengikat.
Ada orang yang setelah membantu merasa berhak menentukan semuanya. Cara bicara berubah. Sikap berubah. Seolah-olah kebaikan yang ia beri menjadi tiket untuk masuk terlalu jauh ke kehidupan orang lain. Padahal, tidak semua bantuan harus dibayar dengan kepatuhan.
Di sisi lain, ada juga penerima bantuan yang lupa diri. Merasa karena sudah dibantu, maka semua keputusan harus mengikuti kemauan pemberi. Akhirnya hubungan menjadi tidak sehat: satu merasa paling berjasa, satu lagi kehilangan kebebasan.
Kalimat “selain donatur dilarang ngatur” menjadi semacam perlawanan kecil terhadap sikap seperti itu. Sebuah pengingat bahwa hidup seseorang tetap miliknya sendiri. Bahwa bantuan bukan berarti kepemilikan. Bahwa menolong tidak otomatis memberi hak untuk mengendalikan.
Namun tentu saja, kalimat itu juga tidak bisa dipakai mentah-mentah. Dalam beberapa keadaan, nasihat dari orang yang membantu justru penting. Orang tua membiayai anaknya sekolah tentu boleh mengingatkan anaknya agar serius belajar. Teman yang membantu saat kita jatuh boleh menegur ketika kita mengulangi kesalahan yang sama. Tidak semua “ngatur” itu buruk. Kadang itu bentuk kepedulian.
Karena itu, yang perlu dibedakan adalah niat dan caranya. Mengarahkan dengan kasih berbeda dengan mengontrol karena merasa punya kuasa. Menolong dengan tulus berbeda dengan memberi sambil menuntut balasan.
Pada akhirnya, hubungan terbaik bukan hubungan yang dibangun atas hutang budi tanpa akhir. Hubungan terbaik lahir dari rasa saling menghargai. Yang memberi tidak merasa paling tinggi. Yang menerima tidak merasa paling rendah.
Sebab bantuan yang paling indah adalah bantuan yang tidak membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.

Komentar
Posting Komentar