Langsung ke konten utama

Sosiologi yang Saya Pelajari

SOSIOLOGI YANG SAYA PELAJARI


Sebagai mahasiswa yang mengambil prodi sosiologi, rasanya konsep-konsep atau teori-teori sosiologi yang disajikan selalu bertipikal Barat yang cocok untuk menganalisis masyarakat Barat yang borjuis. Padahal kita sebagai orang Sunda, atau masyarakat Indonesia, atau sebagai umat muslim, sebenarnya bisa saja merumuskan konsep dan teori sosiologi yang lain yang lebih melokal dengan karakteristik masyarakat tersendiri dan berbeda dari yang ada. Bila kita menghayati dan menyadari bahwa yang selama ini kita pelajari selalu memiliki referensi dari para ilmuwan Barat yang sekuler sehingga tanpa kita sadari kita telah menjadi pelanggan atau konsumen setia dari setiap teori yang datang dari Barat.

Sebagai orang Sunda, atau masyarakat pribumi Indonesia pada umumnya, atau sebagai umat muslim yang menjadi penduduk mayoritas di Bumi Nusantara, tentunya secara geografis memiliki tempat tinggal yang berbeda dengan masyarakat Barat, begitupun dengan karakteristik masyarakatnya dan kebudayaannya. Dengan demikian, sangat jelas bahwa sebagai masyarakat pribumi tentunya membutuhkan suatu sistem sains yang berbeda pula karena sains Barat dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri.

Jika kita melihat ke belakang, masyarakat Islam pernah memiliki peradaban yang sangat maju, di mana pada waktu itu sains berkembang pesat sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan masyarakat Islam. Di masyarakat Sunda pun kita mengetahui peradaban masyarakat Sunda dari para karuhun yang selalu menekankan pada etika dan tatakrama sehingga orang Sunda terkenal dengan keramahannya. Dari hal itu kemudian muncul peribahasa soméah hadé ka sémah yang mempunyai arti ramah dan berperilaku baik kepada orang lain. Begitu pula dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, orang asing pun memandang orang Indonesia sebagai orang yang ramah. Selain itu, masyarakat Indonesia juga terkenal dengan gotong royongnya. Akan tetapi seiring bergantinya waktu, nilai-nilai lokal dari para pendahulu itu kini sedikit demi sedikit kian memudar karena pengaruh asing yang datang dari luar.

Salah satu yang menjadi kekeliruan dari sains Barat yang sekuler adalah tidak adanya sumber autentik, khususnya sains sosial. Mereka berpandangan bahwa manusia adalah ukuran segala-galanya sehingga dijadikan sebagai pusat nilai. Maka dari itu, produk sains yang dihasilkan pun bersifat sekuler dan kehilangan akan tanggung jawab membangkitkan pemahaman serta tujuan bagi manusia dan kemanusiaan. Hal tersebut terjadi hampir di semua jenis sains, tidak terkecuali ilmu sosial, khususnya sosiologi. Pada titik ini rasanya umat Islam sangat perlu memiliki sains sosial yang ideologis, yang tidak hanya menganalisis suatu fakta sosial melainkan juga memberi solusi dan jalan keluar.

Menurut Haidar Bagir, umat muslim membutuhkan jenis sains yang berbeda karena masyarakat muslim membutuhkan suatu sistem sains untuk mencukupi berbagai kebutuhannya termasuk kebutuhan material dan spiritual, yang mana sistem sains belakangan ini mengandung nilai-nilai khas Barat yang melekat dan banyak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Selain itu, masyarakat muslim juga tinggal di wilayah geografis yang memiliki kebudayaan yang berbeda dengan Barat yang menjadi tempat sains modern dikembangkan. Selanjutnya, masyarakat Islam juga pernah memiliki suatu peradaban yang mana pada waktu itu sains berkembang pesat dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

Oleh karena itu kita harus menyadari pentingnya sains sosial yang alternatif yang bersandar pada wahyu autentik. Kita telah mengetahui bahwa Al-Quran diyakini bukan hanya sekedar kitab suci, melainkan kitab pengetahuan yang dapat menerangi setiap detik perjalanan dalam peradaban manusia. Maka dari itu, pada dasarnya kita memerlukan sains sosial yang memiliki dasar autentik yang sesuai dengan semboyan “Wahyu Memandu Ilmu” yang kerap kali menjadi semboyan dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung.



Penulis : Surya Saputra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MITOS BURUNG KEDASIH DALAM KEPERCAYAAN MASYARAKAT NUSANTARA

Burung kedasih merupakan salah satu burung yang cukup dikenal dalam cerita rakyat dan kepercayaan tradisional di berbagai daerah di Nusantara. Burung ini sering dikaitkan dengan suara sendu dan kemunculannya yang dianggap membawa pertanda tertentu. Dalam dunia ilmiah, kedasih termasuk keluarga cuckoo yang memiliki kebiasaan unik, yaitu menitipkan telurnya di sarang burung lain. Di tengah masyarakat tradisional, suara burung kedasih yang terdengar lirih pada malam atau dini hari menimbulkan kesan misterius. Karena itulah, burung ini sering hadir dalam berbagai mitos, legenda, hingga pantangan adat. Di beberapa wilayah Indonesia, suara burung kedasih dipercaya sebagai pertanda datangnya kabar duka. Masyarakat Jawa misalnya, mengenal anggapan bahwa suara kedasih di dekat rumah dapat menjadi tanda akan adanya musibah atau kematian seseorang. Kepercayaan ini muncul karena suara burung kedasih terdengar melankolis dan sering terdengar pada waktu sunyi. Dalam budaya tradisional, bunyi-bunyian...

APAKAH AI AKAN MENGGANTIKAN GURU?

  Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. AI kini mampu membantu berbagai pekerjaan manusia, mulai dari menulis, menerjemahkan, hingga menjawab pertanyaan dengan cepat. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan penting: apakah AI akan menggantikan peran guru di masa depan? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami terlebih dahulu apa sebenarnya peran seorang guru. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga pembimbing, motivator, dan pembentuk karakter. Dalam proses belajar, guru membantu siswa memahami konsep, mengatasi kesulitan, serta menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama. Peran ini tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga emosional dan sosial. Di sisi lain, AI memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan akses informasi. AI dapat memberikan jawaban instan, menyediakan latihan soal, bahkan menyesuaikan materi sesuai dengan jenjang pendidikan siswa. Hal ini tentu ...

Puasa Ulat dan Ular: Sebuah Perjalanan Menuju Transformasi

  PUASA ULAT DAN ULAR: SEBUAH PERJALANAN MENUJU TRANSFORMASI Ulat dan ular memiliki cara yang sama untuk mengubah diri mereka menjadi lebih baik. Kedua hewan tersebut harus bersusah payah melalui serangkaian proses untuk mencapai kesempurnaan diri dan melakukan perubahan dengan cara berpuasa. Namun, setelah puasa yang dilakukan kedua hewan tersebut, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan antara hasil puasanya ulat dan hasil puasanya ular.             Seekor ular berpuasa dengan cara mengganti kulitnya secara berkala dalam periode tertentu, namun hasil dari puasa tersebut tidak membuat sifat dan karakter ular tersebut berubah. Seekor ular memiliki karakteristik yang tetap dan tidak berubah, baik dari segi sifat, bentuk, nama, makanan, cara bergerak, maupun tabiatnya. Adapun puasanya ulat, ulat harus menjadi kepompong terlebih dahulu yang sebelumnya banyak makan, kemudian bermetamorfosis dengan tujuan supaya berhasil mencapai kes...