Langsung ke konten utama

Sosiologi sebagai Sebuah Perspektif

SOSIOLOGI SEBAGAI SEBUAH PERSPEKTIF

            Tahapan awal yang perlu dilakukan adalah dapat memahami dengan baik konsep dasar sosiologi sebagai sebuah ilmu. Sosiologi dijadikan sebagai sebuah cara pandang terhadap suatu fenomena sosial dengan persektif ilmiah. Dalam hal ini, sosiologi ada kaitannya dengan rangkaian peristiwa yang terjadi di Eropa yang kemudian mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat secara luas.

            Sosiologi muncul pertama kali pada petengahan abad ke-19 yang dicetuskan oleh seorang ilmuwan asal Perancis bernama Auguste Comte. Pada waktu itu, di wilayah Eropa mengalami sebuah perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat terlebih ilmu-ilmu alam yang terus menerus menemukan berbagai keteraturan atau hukum-hukum universal yang sifatnya tetap yang mengatur beragam gejala alamiah yang berubah-ubah. Sebagian masyarakat Eropa yang memiliki semangat pencerahan, mencoba mempelajari dan memahami hal tersebut secara positif dalam artian dapat dibuktikan secara empiris dan logis sebagai tantangan cara pandang sebagian masyarakat Eropa yang lain yang cenderung memahami gejala alam dengan pandangan kepercayaan religius yang mistis. Pada mulanya Auguste Comte mengamati cara kerja ilmu alam untuk memahami masyarakat, oleh karena itu pada mulanya ia menyebut sosiologi sebagai fisika sosial.

            Di bawah pengaruh ilmu-ilmu alam, sosiologi berusaha menemukan hukum-hukum umum dan abstrak terkait objek kajiannya, akan tetapi hukum-hukum umum dan abstrak tersebut harus dapat diuji dalam kenyataan pengalaman yang objektif. Gerakan dari kenyataan pengalaman ke hukum-hukum umum itu dilakukan melalui prosedur-prosedur penarikan kesimpulan yang rasional, yang dapat dipertanggung jawabkan menurut kaidah-kaidah logika sebagaimana yang dilakukan pada ilmu-ilmu alam.

            Bila ilmu-ilmu alam mempelajari sesuatu yang berada di luar manusia yakni alam sebagai objek kajiannya, maka sosiologi mempelajari manusia itu sendiri sebagai objek kajiannya. Namun, manusia yang dipelajari oleh sosiologi bukanlah manusia sebagai makhluk biologis yang dibangun oleh proses mekanisme-mekanisme fisik-kimiawi, bukan manusia sebagai individu yang sepenuhnya mandiri, melainkan manusia sebagai individu yang saling terkait dengan individu yang lain, manusia yang hidup diantara manusia-manusia yang lain, manusia sebagai kolektivitas, baik yang disebut dengan komunitas maupun sosietas.

            Sebagai usaha pemahaman yang objektif dan empirik, sosiologi pada dasarnya mempelajari manusia sebagaimana yang ditemukan dan dialami dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, untuk menemukan hukum-hukum umum atau keteraturan-keteraturan tertentu tentunya sosiologi memerlukan waktu yang relatif cukup lama sehingga membuat sosiologi teruji dan tidak hanya berhenti pada kenyataan-kenyataan keseharian saja. Beragam objek pengalaman yang dapat dilihat secara langsung tentunya sangat bervariasi, seakan tak beraturan, berubah-ubah, tak berpola, dan hilang sesaat setelah muncul. Pola-pola dan keteraturan-keteraturan baru dapat ditemukan jika sosiologi mampu bergerak masuk ke dalam pola-pola umum atau hukum-hukum umum dan abstrak sesuai dengan kaidah-kaidah rasionalitas. Oleh karena itu, kehidupan sosial yang dipelajari sosiologi sangatlah luas, kompleks, dan berlapis-lapis.

            Dengan keluasan dan kompleksitas objek yang demikian, sosiologi menampilkan tiga kecenderungan yang berbeda, tiga orientasi yang berbeda dalam mendekati manusia sebagai makhluk sosial. Kemudian ketiga kecenderungan tersebut membentuk sebuah madzhab sosiologi atau meminjam istilah George Ritzer dengan menyebut hal tersebut dengan istilah paradigma sosial. Ada paradigma fakta sosial yang dipelopori oleh Emile Durkheim, paradigma definisi sosial yang diwakili oleh Max Weber, dan paradigma perilaku sosial yang dicetuskan oleh Burrhus Frederic Skinner.

            Emile Durkheim mencoba untuk memisahkan sosiologi dari filsafat karena menurutnya sosiologi masih terbelenggu oleh filsafat. Emile Durkheim memandang sosiologi sebagai sesuatu yang posisinya berada di luar pikirannya atau pikiran seorang sosiolog sebagai fakta sosial, berbeda dengan Auguste Comte dan Herbert Spencer yang memahami masyarakat sebagai objek kajian sosiologi sebagai hasil refleksi pemikiran. Menurut Emile Durkheim, sebagai sesuatu yang berada di luar pikiran, masyarakat tidak bisa dipelajari melalui introspeksi melainkan dengan melakukan pengamatan terhadap sesuatu yang berada di luar pikiran itu dan bersifat eksternal bagi kesadaran subjektif individu. Fakta sosial juga berbeda dengan fakta psikologis yang bersifat internal dalam personal individu.

            Dikarenakan sosiologi itu berbicara sesuatu yang berada di luar diri individu dan melampaui batas fakta psikologis maka oleh karena itu sosiologi hanya dapat dijelaskan oleh suatu fakta sosial yang lain. Oleh karenanya, dalam paradigma ini sosiologi membahas apa yang dimaksud dengan institusi-institusi sosial dan struktur sosial. Max Weber beranggapan bahwa studi mengenai institusi-institusi sosial tidak hanya dapat dilakukan dari luar, dilepaskan dari beragam tindakan yang dilakukan oleh subjek, dari subjek-subjek yang bertindak, dan dari yang memberi makna terhadap institusi-institusi sosial tersebut. Dengan demikian, kesimpulan yang dapat dipahami dari teori Max Weber adalah usaha-usaha untuk memahami motif dari beragam tindakan. Menurut pandangan Max Weber, dalam sosiologi terdapat keseragaman dan kesamaan empiris dari tindakan dan interaksi atau hubungan sosial sehingga sosiologi dapat bergerak dari level kehidupan sosial yang mikro hingga level kehidupan sosial yang makro yang meliputi kelompok sosial, institusi, organisasi, komunitas, dan sebagainya.

       Adapun Burrhus Frederic Skinner memahami masyarakat sebagai hubungan-hubungan interaksional yang dibingkai oleh mekanisme stimulan dan respon. Inti dari teori ini adalah reinforcement, rangsangan-rangsangan yang berpengaruh terhadap perilaku sosial. Paradigma yang ketiga ini cenderung memberikan perhatian terhadap lingkungan sosial yang mikro, yang dapat diperolah secara langsung.


Penulis : Surya Saputra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MITOS BURUNG KEDASIH DALAM KEPERCAYAAN MASYARAKAT NUSANTARA

Burung kedasih merupakan salah satu burung yang cukup dikenal dalam cerita rakyat dan kepercayaan tradisional di berbagai daerah di Nusantara. Burung ini sering dikaitkan dengan suara sendu dan kemunculannya yang dianggap membawa pertanda tertentu. Dalam dunia ilmiah, kedasih termasuk keluarga cuckoo yang memiliki kebiasaan unik, yaitu menitipkan telurnya di sarang burung lain. Di tengah masyarakat tradisional, suara burung kedasih yang terdengar lirih pada malam atau dini hari menimbulkan kesan misterius. Karena itulah, burung ini sering hadir dalam berbagai mitos, legenda, hingga pantangan adat. Di beberapa wilayah Indonesia, suara burung kedasih dipercaya sebagai pertanda datangnya kabar duka. Masyarakat Jawa misalnya, mengenal anggapan bahwa suara kedasih di dekat rumah dapat menjadi tanda akan adanya musibah atau kematian seseorang. Kepercayaan ini muncul karena suara burung kedasih terdengar melankolis dan sering terdengar pada waktu sunyi. Dalam budaya tradisional, bunyi-bunyian...

APAKAH AI AKAN MENGGANTIKAN GURU?

  Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. AI kini mampu membantu berbagai pekerjaan manusia, mulai dari menulis, menerjemahkan, hingga menjawab pertanyaan dengan cepat. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan penting: apakah AI akan menggantikan peran guru di masa depan? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami terlebih dahulu apa sebenarnya peran seorang guru. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga pembimbing, motivator, dan pembentuk karakter. Dalam proses belajar, guru membantu siswa memahami konsep, mengatasi kesulitan, serta menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama. Peran ini tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga emosional dan sosial. Di sisi lain, AI memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan akses informasi. AI dapat memberikan jawaban instan, menyediakan latihan soal, bahkan menyesuaikan materi sesuai dengan jenjang pendidikan siswa. Hal ini tentu ...

Puasa Ulat dan Ular: Sebuah Perjalanan Menuju Transformasi

  PUASA ULAT DAN ULAR: SEBUAH PERJALANAN MENUJU TRANSFORMASI Ulat dan ular memiliki cara yang sama untuk mengubah diri mereka menjadi lebih baik. Kedua hewan tersebut harus bersusah payah melalui serangkaian proses untuk mencapai kesempurnaan diri dan melakukan perubahan dengan cara berpuasa. Namun, setelah puasa yang dilakukan kedua hewan tersebut, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan antara hasil puasanya ulat dan hasil puasanya ular.             Seekor ular berpuasa dengan cara mengganti kulitnya secara berkala dalam periode tertentu, namun hasil dari puasa tersebut tidak membuat sifat dan karakter ular tersebut berubah. Seekor ular memiliki karakteristik yang tetap dan tidak berubah, baik dari segi sifat, bentuk, nama, makanan, cara bergerak, maupun tabiatnya. Adapun puasanya ulat, ulat harus menjadi kepompong terlebih dahulu yang sebelumnya banyak makan, kemudian bermetamorfosis dengan tujuan supaya berhasil mencapai kes...