Langsung ke konten utama

Menjadi Islam, Menjadi Indonesia



MENJADI ISLAM, MENJADI INDONESIA

Sebagaimana yang kita ketahu bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan dan keanekaragaman yang luar biasa, wilayahnya yang sangat luas, dan penduduknya yang banyak. Pada tahun 2010, Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa Indonesia dianugerahi kurang lebih 300 kelompok etnis atau tepatnya 1.340 suku bangsa yang tersebar di berbagai pulau.  Sedangkan dalam hal bahasa, Bumi Nusantara memiliki 660 bahasa daerah dengan dialek dan ciri khasnya masing-masing. Adapun dalam hal keagamaan, Indonesia mengakui secara resmi sebanyak 6 agama, diantaranya yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di samping itu, masih banyak lagi aliran kepercayaan yang masih dianut oleh beberapa suku tertentu yang menguatkan kekayaan dan khazanah religiusitas di Bumi Nusantara.

Kemajemukan yang dimiliki bangsa Indonesia tentunya berpengaruh terhadap cara mereka dalam berinteraksi. Simbol-simbol agama maupun karakter ke-Islaman yang tercermin dalam berpakaian atau berkomunikasi tentunya membawa warna tersendiri ketika sedang berinteraksi. Oleh sebab itu, ajaran Islam merupakan sesuatu yang tertanam di dalam diri, maka yang dibutuhkan bukan menghilangkan karakter ke-Islaman, melainkan kecakapan dan kompetensi khusus supaya hubungan sosial berjalan lebih cair, harmonis, dan tidak menyingung pemeluk agama lain.

Dalam segi ke-Indonesiaan, penulis berpandangan bahwa kekayaan bangsa Indonesia terletak pada keberagamannya termasuk masyarakat majemuk atau yang kita kenal sebagai masyarakat multikultural. Namun, kekayaan sekaligus aset berharga di negeri ini terletak pada persatuan dan kesatuannya. Maka, integrasi nasional menjadi sangat penting tanpa menghilangkan karakteristik masyarakatnya yang khas. Kehadiran Islam sebagai agama menjadi salah satu unsur terpenting dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Dikarenakan Islam dan Indonesia bukan dua hal yang berbeda, maka diantara keduanya membentuk cara bernegara sekaligus cara beragama yang unik, berkarakter, dan mempunyai daya tarik.

Menjadi pribadi muslim yang baik, harus beriringan dengan menjadi warga negara yang baik pula. Sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Gus Dur bahwa esensi Islam itu tidak bergantung pada pakaian yang dikenakan oleh pemeluknya melainkan terletak pada akhlak dan perilaku para pemeluknya. Namun saat ini tidak sedikit diantara saudara muslin kita yang melakukan perbuatan menyimpang seolah-olah hal tersebut menurut mereka tidaklah berdosa dan merupakan suatu perbuatan yang mulia dan dinilai syahid. Dalam hal ini penulis mendeskripsikan fenomena tersebut sebagaimana di dalam novel yang berjudul “Orang-Orang Proyek” karya Ahmad Tohari terdapat sebuah paragraf yang menarik yang menggambarkan suasana kehidupan masyarakat di pedesaan. Adapun penggalan ceritanya kira-kira seperti ini:

”dan Satim? Ah, ini anak yang paling nakal. Dia suka kencing di atas pohon dan selalu berteriak kami melihatnya. Ya, melihat tali air panjang yang mengucur dari kemaluan yang belum disunat, jatuh memercik ke tanah. Tapi Satim sering kelewatan, dia pernah berak di atas pohon yang dipanjatnya. Kotoran setengah cair itu melumuri bagian yang tidak boleh tidak harus diperosotinya sendiri bila Satim turun. Tontonan yang mungkin sangat jorok. Namun bagi anak-anak kampung kami, hal tersebut bisa menjadi bahan gelak tawa yang amat meriah. Yah, Satim harus turun dari atas pohon dengan perut, kaki, dan tangan yang belepotan oleh beraknya sendiri”

Perilaku Satim yang jorok tersebut menyadarkan penulis bahwa ada sebagian orang yang kebetulan beragama Islam dengan sengaja mengotori ajaran mulia nan suci ini. Misalnya tragedi ledakan beruntun pada tahun 2018 lalu yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, atau kejadian yang baru-baru ini seperti kasus wanita bercadar dan berpakaian syar’i karena melakukan pencurian di Masjid Al-Jabbar Kota Bandung. Dan harus kita akui bahwa pelaku peristiwa tersebut adalah saudara satu kiblat dan satu syahadat. Dan apesnya kita harus belepotan karena tingkah si Satim tersebut. Dengan aksesoris Islami, penampilan yang memenuhi “standar keshalehan”, bahkan berbalut cadar, imajinasinya tentang bidadari, tapi hobi memporakporandakan negeri.

Kita pasti merasa heran terhadap tingkah laku mereka, karena perilaku tersebut berbanding terbalik dengan apa yang diajarkan oleh Islam. Sebagaimana kanjeng Nabi yang melakukan dakwah Islamiyahnya ketika di Mekkah dan Madinah (Yatsrib), atau di saat Nabi berada di Thaif ketika hendak ke masjid beliau dicaci, dihina, bahkan dilempari kotoran namun Nabi tidak pernah membalasnya. Hingga sampai pada satu waktu Nabi mendapat kabar bahwa orang yang selalu mencaci, menghina, melempari Nabi dengan kotoran tersebut sakit. Meskipun Nabi mendapat perlakuan tercela tersebut, Nabi tidak segan-segan menjenguknya. Akhirnya, orang tersebut merasa malu hingga pada satu riwayat dia mengucap syahadat. Perangai Nabi yang demikianlah yang membuat Islam diterima dan menyebar luas. Memang seperti itulah Islam, mengajak dengan keindahan, mendakwah dengan kesantunan, jalan dakwahnya merangkul, bukan memukul, jalan dakwahnya mengajak, bukan mengejek.

Indonesia merupakan negara dengan kemajemukan masyarakatnya yang sangat beragam, namun ketika timbul gesekan karena tersulut sensitifitas agama dan suku maka berpotensi pada perpecahan dan disintegrasi sosial. Sangat banyak peristiwa yang telah terjadi, bagaimana mengerikannya tragedi Sampit, konflik Poso dan konflik Ambon yang membawa isu agama, kemudian organisasi subversif seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM), Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Partai Komunis Indonesia (PKI), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan lain sebagainya yang menimbulkan konflik berdarah. Walaupun problematika yang menjadi pematik konflik berdarah tersebut kompleks (agama, budaya, politik, ekonomi), namun benang merah yang dapat ditarik adalah tidak ada satu pun perang saudara yang menghasilkan kemuliaan, semua hanya mampu menimbulkan hancurnya martabat dan derajat sebagai sebuah bangsa.

Menjadi Islam tidak harus meninggalkan identitas kultural sebagai orang Indonesia. Meminjam istilah yang pernah dikatakan oleh Bung Karno bahwa kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India, kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat dan budaya Nusantara yang kaya raya ini. Bung Karno sama sekali tidak menolak agama, karena beliau juga merupakan orang yang beragama. Namun, seorang yang beragama dengan wawasan kebangsaan yang luas dengan menjunjung tinggi peri-kemanusiaan. Membaca Indonesia berarti menghayati keberagaman yang selanjutnya menumbuhkan suatu ikatan emosional yang tak bisa dipisahkan. Memahami Indonesia sama dengan memahami kebhinnekaan sebagai kekuatan yang fundamental. Oleh sebab itu, mengekspresikan ke-Islaman dengan kebijaksanaan dan kearifan menjadi kemampuan yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia sebagai upaya untuk memelihara keharmonisan sosial dan mampu bekerja sama bergotong rotong merawat dan melestarikan kekayaan Indonesia sebagai bangsa yang besar.



Penulis : Surya Saputra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MITOS BURUNG KEDASIH DALAM KEPERCAYAAN MASYARAKAT NUSANTARA

Burung kedasih merupakan salah satu burung yang cukup dikenal dalam cerita rakyat dan kepercayaan tradisional di berbagai daerah di Nusantara. Burung ini sering dikaitkan dengan suara sendu dan kemunculannya yang dianggap membawa pertanda tertentu. Dalam dunia ilmiah, kedasih termasuk keluarga cuckoo yang memiliki kebiasaan unik, yaitu menitipkan telurnya di sarang burung lain. Di tengah masyarakat tradisional, suara burung kedasih yang terdengar lirih pada malam atau dini hari menimbulkan kesan misterius. Karena itulah, burung ini sering hadir dalam berbagai mitos, legenda, hingga pantangan adat. Di beberapa wilayah Indonesia, suara burung kedasih dipercaya sebagai pertanda datangnya kabar duka. Masyarakat Jawa misalnya, mengenal anggapan bahwa suara kedasih di dekat rumah dapat menjadi tanda akan adanya musibah atau kematian seseorang. Kepercayaan ini muncul karena suara burung kedasih terdengar melankolis dan sering terdengar pada waktu sunyi. Dalam budaya tradisional, bunyi-bunyian...

APAKAH AI AKAN MENGGANTIKAN GURU?

  Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. AI kini mampu membantu berbagai pekerjaan manusia, mulai dari menulis, menerjemahkan, hingga menjawab pertanyaan dengan cepat. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan penting: apakah AI akan menggantikan peran guru di masa depan? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami terlebih dahulu apa sebenarnya peran seorang guru. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga pembimbing, motivator, dan pembentuk karakter. Dalam proses belajar, guru membantu siswa memahami konsep, mengatasi kesulitan, serta menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama. Peran ini tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga emosional dan sosial. Di sisi lain, AI memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan akses informasi. AI dapat memberikan jawaban instan, menyediakan latihan soal, bahkan menyesuaikan materi sesuai dengan jenjang pendidikan siswa. Hal ini tentu ...

Puasa Ulat dan Ular: Sebuah Perjalanan Menuju Transformasi

  PUASA ULAT DAN ULAR: SEBUAH PERJALANAN MENUJU TRANSFORMASI Ulat dan ular memiliki cara yang sama untuk mengubah diri mereka menjadi lebih baik. Kedua hewan tersebut harus bersusah payah melalui serangkaian proses untuk mencapai kesempurnaan diri dan melakukan perubahan dengan cara berpuasa. Namun, setelah puasa yang dilakukan kedua hewan tersebut, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan antara hasil puasanya ulat dan hasil puasanya ular.             Seekor ular berpuasa dengan cara mengganti kulitnya secara berkala dalam periode tertentu, namun hasil dari puasa tersebut tidak membuat sifat dan karakter ular tersebut berubah. Seekor ular memiliki karakteristik yang tetap dan tidak berubah, baik dari segi sifat, bentuk, nama, makanan, cara bergerak, maupun tabiatnya. Adapun puasanya ulat, ulat harus menjadi kepompong terlebih dahulu yang sebelumnya banyak makan, kemudian bermetamorfosis dengan tujuan supaya berhasil mencapai kes...